اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَبِيْبِ الْمَحْبُوْبِ شَافِى الْعِلَلِ وَمُفَرِّجِ الْكُرَبِ

Sabtu, 11 Juli 2009

Berpikir dalam Lima Hal

Sebagaimana dikatakan Jumhur ulama, bahwa sesungguhnya berpikir itu dalam lima hal, yaitu :

a. Berpikir mengenai tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah, sehingga lahir tauhid dan keyakinan kepada Allah.
b. Berpikir mengenai kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah berikan, sehingga lahir rasa cinta dan syukur kepada Allah.
c. Berpikir tentang janji-janji Allah, sehingga lahir rasa cinta kepada akhirat.
d. Berpikir tentang ancaman Allah, sehingga lahir rasa takut kepada Allah.
e. Berpikir tentang sejauhmana ketaatannya kepada Allah, padahal Allah selalu berbuat baik kepadanya, sehingga lahir kegairahan dalam beribadah.

Sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya :
" Perhatikanlah apa yang ada dilangit dan di bumi."
" Dan di bumi terdapat tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah, bagi orang-orang yang yakin kepada Allah dan pada diri kamu sekalian, tidakkah kamu sekalian berpikir."
Dan akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran Kami di alam semesta dan pada diri mereka sehingga jelas bagi mereka bahwa Allah itu benar (yang hak)."
" Dan apabila kamu hendak menghitung banyaknya nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu, agar kamu sekalian mendapat kebahagiaan."
Sabda Nabi Saw yang artinya :
" Berpikir sesaat tentang sesuatu yang Allah ciptakan nilainya lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun."
" Berpikirlah kamu tentang tanda-tanda kebesaran Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Zat Allah, karena kamu tidak akan mampu memikirkannya (mengetahuinya) secara hakiki."
Sebagian ulama ahli makrifat mengatakan :
" Berpikir itu bagaikan pelita hati, apabila daya berpikir itu hilang, maka hilanglah cahaya baginya."
Syeh Al Hifni mengatakan :
" Berpikir tentang apa-apa yang telah Allah ciptakan, sakaratulmaut, siksa kubur, dan kesulitan-kesulitan di hari kiamat itu lebih baik daripada banyak beribadah, karena di dalam proses berpikir itu mengandung hal yang positif (yang baik)."

Imam Khalil Ar Rasyidi mengatakan :
" Berpikir tidak akan berhasil, kecuali membiasakan zikir dengan lisan yang disertai kekhusyu'an hati, sehingga memungkinkan adanya zikir di dalam hatinya, sedangkan keberhasilan ukuran ini, ditangguhkan pada adanya makrifat."
Ibrahim Ar Raqi mengatakan :
" Berpikir adalah menetapkan (mencari) kebenaran sesuatu berdasarkan apa yang ada padanya, yang dapat mengeluarkannya dari segala sesuatu yang membingungkan." (Sumber : Kitab Nashaihul Ibad/Ibnu Hajar Al Asqalani)
Wassalamu'alaikum.


Sabtu, 13 Juni 2009

DIMENSI TAQWA

Dalam Al Qur’an menurut catatan Muhammad Abduh Baqi melalui “ Al-Mu’jam Al-Mafahras Li alfazh Al-Qur’an Al-Karim” kata-kata taqwa dalam berbagai bentuknya itu ada sekitar 239 kali. Dalam ungkapan Indonesia kata taqwa seringkali diartikan “takut” kepada Allah. Jika diartikan takut, tentu filsafat takut tersebut tidak sama seperti seseorang takut kepada makhluk lain.
Taqwa itu lebih dekat lagi bisa dikatakan artinya kepada perasaan segan, kagum, dan cinta kepada Allah SWT, sehingga seseorang yang telah mendalam sifat taqwanya, sudah barangb tentu ia tidak menyimpan rasa takut lagi kepadan siapapun. Sebab dalam pengertian taqwa semacam itu, seseorang akan melaksanakan dengan ikhlas segala apa yang diperintahkan oleh Allah, dan dengan sepenuh hati pula akan menjauhi segala apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
Apabila kita menyimak Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh maka segera kita dapat menyerap betapa banyaknya dimensi taqwa yang terkandung didalamnya. Dari jumlah kata saja, yang dihubungkan dengan berbagai ungkapan, maka jumlahnya melebihi dua ratus. Karena itu logis sekali bila Allah SWT memberikan perintah untuk berbekal taqwa, sebagaimana firman-Nya :

Artinya : “ Berbekallah, dan sesungguhnya sebai-baik bekal itu ialah taqwa; dan berlindunglah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal ”(QS 2-197)
Rasulallah SAW dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Turmuzi dari sanad Abu Zar dan Mu’az bin Jabal mengatakan, yang artinya : Bertaqwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan giringkanlah keburukan itu dengan kebajikan yang (dengan kebajikan itu) akan menghapuskan keburukan. Dan bergaulah dengan sesama manusia dalam penampilan perilaku yang baik (H.R. Turmuzi)

Komentar Imam Nawawi (Yahya bin Syaraf Al-Din) tentang kata taqwa yang terkandung dalam konteks itaqillah ” sebagai kata-kata yang sudah sangat lazim, dengan inti melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

Artinya : ” Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. 16:128)
Perlu kita ketahui bahwa derajat taqwa merupakan yang tertinggi dari nilai kemanusiaan. Kita dianjurkan untuk berusaha mendapatkan derajat taqwa itu; namun tidak seorangpun mengetahui apakah dirinya telah tergolong sebagai manusia yang taqwa atau tidak. Allah berfirman :

Artinya : “....Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.(QS 53:32)

Demikian Wabillahidayah wattaufiq (Ahmad Zahr Al-Din)

Pengikut

Suara Qur'an