Hari, bulan, dan amalan yang paling baik
Ketika ditanya hari, bulan, dan amalan yang paling baik, Ibnu Abbas menjawab, " Hari yang paling baik adalah hari Jum'at, bulan yang paling baik adalah bulan ramadhan, dan amal yang paling baik adalah shalat lima waktu tepat pada waktunya. Kemudian Ibnu Abbas meninggal dunia pada hari tersebut. Tiga hari sesudah Ibnu Abbas meninggal, sampilah berita kepada Ali ra. bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya tentang tiga hal tersebut dan Ibnu Abbas menjawab dengan tiga jawaban tersebut.
Ali ra. berkata, " Apabila para ulama, hukama, dan fuqaha, dari Masyrik sampai Maghrib ditanya tentang hal itu, pasti mereka akan menjawab seperti jawaban Ibnu Abbas, kecuali saya, yang akan menjawab sebagai berikut : amal yang paling baik adalah amal yang diterima di sisi Allah, bulan yang palin baik adalah bulan di mana kamu bertobat kepada Allah dengan tobat yang sempurna, dan sebaik-baik hari adalah hari di mana kamu mati kembali kepada Allah dalam keadaan iman kepadanya."
Ibnu Abbas mengatakan, bahwa yang disebut Tobat Nasuha adalah :" Menyesali dosa yang ia kerjakan memohon ampun dengan lisan, mencabut/menghentikan perbuatan maksiat itu dengan anggota badan, dan berjanji tidak akan kembali melakukan hal-hal yang dilarang Allah Swt."
" Tobat Mashuha adalah tobat yang sesudah tobatnya itu tidak mengulangi berbuat maksiat baik secara rahasia ataupun secara terang-terangan."
" Tobatan Nashuha adalah tobat yang mewariskan kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi orang yang melakukannya."
Nashoihul Ibad Makalah Keempat Puluh
|
|
Tampilkan postingan dengan label Nasihat Dan Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat Dan Hikmah. Tampilkan semua postingan
Senin, 20 Desember 2010
Sabtu, 12 Desember 2009
Empat Macam Jenis Cinta
Empat Macam Jenis Cinta
Ada empat macam jenis cinta yang harus dibedakan. Bila ada orang yang tidak bisa membedakan keempat jenis cinta tersebut maka sungguh sesat yaitu :
Pertama, cinta kepada Allah. Hanya dengan mencintai Allah saja tidak akan dapat menyelamatkan dirinya dari siksa-Nya dan tidak memperoleh pahala-Nya, sebab orang-orang musyrik, para penyembah salib dan sebagainya, mereka juga mencintai Allah.
Kedua, mencintai apa yang dicintai Allah. Inilah yang dapat memasukkan seseorang dalam Islam dan mengeluarkannya dari kekafiran. Orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang paling kuat dan paling teguh memegang kecintaan ini.
Ketiga, cinta karena Allah dan mengharap ridha-Nya. Ini merupakan persyaratan dari mencintai segala apa yang dicintai Allah, karena hal tersebut tidak akan berhasil dengan baik tanpa ridha dari Allah dan dilakukan karena Dia.
Keempat, mencintai Allah juga mencintai yang lain sejajar dengan mencintai-Nya. Inilah cintanya orang musyrik. Barang siapa mencintai sesuatu sebagaimana ia mencintai Allah, yang ia lakukan bukan karena Allah dan bukan karena mencari ridha-Nya, maka ia telah menjadikan sesuatu tandingan Allah. Dan inilah kecintaan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik.
Ada lagi cinta yang lain yaitu cinta yang kelima, akan tetapi tidak termasuk dari keempat jenis cinta tersebut, yakni cinta naluri. Cinta naluri adalahkecenderungan seseorang terhadap sesuatu yang sesuai dngan tabiatnya seperti cintanya orang yang haus pada air, kecintaan orang yang lapar kepada makanan, cinta harta, cinta tidur, cinta kekasih, cinta istri, dan cinta anak cucu. Cinta semacam ini tidak tercela selama tidak melupakan Allah dan mengurangi kecintaan kita kepada-Nya, sebagaimana firman Allah :
“ Hai orang-orang yang beriaman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
“ Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula jual belinya dari mengingat Allah.” (QS. An-Nur:37).
Demikian Maha Suci Allah atas segala firman-Nya. (Sumber : Ibnu Qayyim/Ad-Da’wad Dawaa’)
Ada empat macam jenis cinta yang harus dibedakan. Bila ada orang yang tidak bisa membedakan keempat jenis cinta tersebut maka sungguh sesat yaitu :
Pertama, cinta kepada Allah. Hanya dengan mencintai Allah saja tidak akan dapat menyelamatkan dirinya dari siksa-Nya dan tidak memperoleh pahala-Nya, sebab orang-orang musyrik, para penyembah salib dan sebagainya, mereka juga mencintai Allah.
Kedua, mencintai apa yang dicintai Allah. Inilah yang dapat memasukkan seseorang dalam Islam dan mengeluarkannya dari kekafiran. Orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang paling kuat dan paling teguh memegang kecintaan ini.
Ketiga, cinta karena Allah dan mengharap ridha-Nya. Ini merupakan persyaratan dari mencintai segala apa yang dicintai Allah, karena hal tersebut tidak akan berhasil dengan baik tanpa ridha dari Allah dan dilakukan karena Dia.
Keempat, mencintai Allah juga mencintai yang lain sejajar dengan mencintai-Nya. Inilah cintanya orang musyrik. Barang siapa mencintai sesuatu sebagaimana ia mencintai Allah, yang ia lakukan bukan karena Allah dan bukan karena mencari ridha-Nya, maka ia telah menjadikan sesuatu tandingan Allah. Dan inilah kecintaan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik.
Ada lagi cinta yang lain yaitu cinta yang kelima, akan tetapi tidak termasuk dari keempat jenis cinta tersebut, yakni cinta naluri. Cinta naluri adalahkecenderungan seseorang terhadap sesuatu yang sesuai dngan tabiatnya seperti cintanya orang yang haus pada air, kecintaan orang yang lapar kepada makanan, cinta harta, cinta tidur, cinta kekasih, cinta istri, dan cinta anak cucu. Cinta semacam ini tidak tercela selama tidak melupakan Allah dan mengurangi kecintaan kita kepada-Nya, sebagaimana firman Allah :
“ Hai orang-orang yang beriaman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
“ Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula jual belinya dari mengingat Allah.” (QS. An-Nur:37).
Demikian Maha Suci Allah atas segala firman-Nya. (Sumber : Ibnu Qayyim/Ad-Da’wad Dawaa’)
Sabtu, 11 Juli 2009
Berpikir dalam Lima Hal
Sebagaimana dikatakan Jumhur ulama, bahwa sesungguhnya berpikir itu dalam lima hal, yaitu :
a. Berpikir mengenai tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah, sehingga lahir tauhid dan keyakinan kepada Allah.
b. Berpikir mengenai kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah berikan, sehingga lahir rasa cinta dan syukur kepada Allah.
c. Berpikir tentang janji-janji Allah, sehingga lahir rasa cinta kepada akhirat.
d. Berpikir tentang ancaman Allah, sehingga lahir rasa takut kepada Allah.
e. Berpikir tentang sejauhmana ketaatannya kepada Allah, padahal Allah selalu berbuat baik kepadanya, sehingga lahir kegairahan dalam beribadah.
Sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya :
" Perhatikanlah apa yang ada dilangit dan di bumi."
" Dan di bumi terdapat tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah, bagi orang-orang yang yakin kepada Allah dan pada diri kamu sekalian, tidakkah kamu sekalian berpikir."
Dan akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran Kami di alam semesta dan pada diri mereka sehingga jelas bagi mereka bahwa Allah itu benar (yang hak)."
" Dan apabila kamu hendak menghitung banyaknya nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu, agar kamu sekalian mendapat kebahagiaan."
Sabda Nabi Saw yang artinya :
" Berpikir sesaat tentang sesuatu yang Allah ciptakan nilainya lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun."
" Berpikirlah kamu tentang tanda-tanda kebesaran Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Zat Allah, karena kamu tidak akan mampu memikirkannya (mengetahuinya) secara hakiki."
Sebagian ulama ahli makrifat mengatakan :
" Berpikir itu bagaikan pelita hati, apabila daya berpikir itu hilang, maka hilanglah cahaya baginya."
Syeh Al Hifni mengatakan :
" Berpikir tentang apa-apa yang telah Allah ciptakan, sakaratulmaut, siksa kubur, dan kesulitan-kesulitan di hari kiamat itu lebih baik daripada banyak beribadah, karena di dalam proses berpikir itu mengandung hal yang positif (yang baik)."
Imam Khalil Ar Rasyidi mengatakan :
" Berpikir tidak akan berhasil, kecuali membiasakan zikir dengan lisan yang disertai kekhusyu'an hati, sehingga memungkinkan adanya zikir di dalam hatinya, sedangkan keberhasilan ukuran ini, ditangguhkan pada adanya makrifat."
Ibrahim Ar Raqi mengatakan :
" Berpikir adalah menetapkan (mencari) kebenaran sesuatu berdasarkan apa yang ada padanya, yang dapat mengeluarkannya dari segala sesuatu yang membingungkan." (Sumber : Kitab Nashaihul Ibad/Ibnu Hajar Al Asqalani)
Wassalamu'alaikum.
a. Berpikir mengenai tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah, sehingga lahir tauhid dan keyakinan kepada Allah.
b. Berpikir mengenai kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah berikan, sehingga lahir rasa cinta dan syukur kepada Allah.
c. Berpikir tentang janji-janji Allah, sehingga lahir rasa cinta kepada akhirat.
d. Berpikir tentang ancaman Allah, sehingga lahir rasa takut kepada Allah.
e. Berpikir tentang sejauhmana ketaatannya kepada Allah, padahal Allah selalu berbuat baik kepadanya, sehingga lahir kegairahan dalam beribadah.
Sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya :
" Perhatikanlah apa yang ada dilangit dan di bumi."
" Dan di bumi terdapat tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah, bagi orang-orang yang yakin kepada Allah dan pada diri kamu sekalian, tidakkah kamu sekalian berpikir."
Dan akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran Kami di alam semesta dan pada diri mereka sehingga jelas bagi mereka bahwa Allah itu benar (yang hak)."
" Dan apabila kamu hendak menghitung banyaknya nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu, agar kamu sekalian mendapat kebahagiaan."
Sabda Nabi Saw yang artinya :
" Berpikir sesaat tentang sesuatu yang Allah ciptakan nilainya lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun."
" Berpikirlah kamu tentang tanda-tanda kebesaran Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Zat Allah, karena kamu tidak akan mampu memikirkannya (mengetahuinya) secara hakiki."
Sebagian ulama ahli makrifat mengatakan :
" Berpikir itu bagaikan pelita hati, apabila daya berpikir itu hilang, maka hilanglah cahaya baginya."
Syeh Al Hifni mengatakan :
" Berpikir tentang apa-apa yang telah Allah ciptakan, sakaratulmaut, siksa kubur, dan kesulitan-kesulitan di hari kiamat itu lebih baik daripada banyak beribadah, karena di dalam proses berpikir itu mengandung hal yang positif (yang baik)."
Imam Khalil Ar Rasyidi mengatakan :
" Berpikir tidak akan berhasil, kecuali membiasakan zikir dengan lisan yang disertai kekhusyu'an hati, sehingga memungkinkan adanya zikir di dalam hatinya, sedangkan keberhasilan ukuran ini, ditangguhkan pada adanya makrifat."
Ibrahim Ar Raqi mengatakan :
" Berpikir adalah menetapkan (mencari) kebenaran sesuatu berdasarkan apa yang ada padanya, yang dapat mengeluarkannya dari segala sesuatu yang membingungkan." (Sumber : Kitab Nashaihul Ibad/Ibnu Hajar Al Asqalani)
Wassalamu'alaikum.
Langganan:
Postingan (Atom)