اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَبِيْبِ الْمَحْبُوْبِ شَافِى الْعِلَلِ وَمُفَرِّجِ الْكُرَبِ

Kamis, 23 Desember 2010

AQIDAH


AQIDAH
Aqidah secara etimolog berasal dari 'aqada, yang berarti ikatan, tambatan. Dalam keseharian aqidah bermakna kepercayaan, keyakinan atau keimanan
Aqidah merupakan dasar dibangunnya ajaran Islam. Tanpa aqidah yang kokoh tidak mungkin ditegakkan ajaran Islam baik dalam individu maupun masyarakat.
Pokok-pokok Aqidah atau rukun iman, terdiri dari 6 hal yaitu iman kepada Allah, kepada Malaikat, kepada Kitab, kepada Rasul, kepada Hari Akhir,dan iman kepada taqdir
Dari ke-6 rukun iman di atas iman kepada Allah SWT merupakan keimanan yang paling mendasar, sebagaimana hadis dari Abu Zar :
"Dan ketahuilah bahwa, awal dari ibadah ialah mengenal ALLAH, bahwa ia yang pertama, sebab segala sesuatu, ......."
MENGENAL ALLAH
Manusia dapat mengenal ALLAH melalaui :
1. Fitrah/naluri,
 
Yaitu kecenderungan dasar manusia untuk mengenal & membutuhkan Allah(7:172).
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (١٧٢)
172. dan (ingatlah Wahai Muhammad) ketika Tuhanmu mengeluarkan zuriat anak-anak Adam (turun-temurun) dari (tulang) belakang mereka, dan ia jadikan mereka saksi terhadap diri mereka sendiri, (sambil ia bertanya Dengan firmanNya): "Bukankah Aku Tuhan kamu?" mereka semua menjawab: "Benar (Engkaulah Tuhan kami), Kami menjadi saksi". Yang demikian supaya kamu tidak berkata pada hari kiamat kelak: "Sesungguhnya Kami adalah lalai (tidak diberi peringatan) tentang (hakikat tauhid) ini".
Hal ini ditunjukkan ketika keadaan kritis manusia ingat Allah (10:12-22)
وَإِذَا مَسَّ الإنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٢)وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (١٣)ثُمَّ جَعَلْنَاكُمْ خَلائِفَ فِي الأرْضِ مِنْ بَعْدِهِمْ لِنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ (١٤)وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ لا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هَذَا أَوْ بَدِّلْهُ قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (١٥)قُلْ لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا تَلَوْتُهُ عَلَيْكُمْ وَلا أَدْرَاكُمْ بِهِ فَقَدْ لَبِثْتُ فِيكُمْ عُمُرًا مِنْ قَبْلِهِ أَفَلا تَعْقِلُونَ (١٦)فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْمُجْرِمُونَ (١٧)وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (١٨)وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (١٩)وَيَقُولُونَ لَوْلا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَقُلْ إِنَّمَا الْغَيْبُ لِلَّهِ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ (٢٠)وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُمْ إِذَا لَهُمْ مَكْرٌ فِي آيَاتِنَا قُلِ اللَّهُ أَسْرَعُ مَكْرًا إِنَّ رُسُلَنَا يَكْتُبُونَ مَا تَمْكُرُونَ (٢١)هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ (٢٢)
12. dan apabila seseorang manusia ditimpa kesusahan, merayulah ia ditimpa Kami (dalam Segala keadaan), sama ada ia sedang berbaring atau duduk ataupun berdiri; dan manakala Kami hapuskan kesusahan itu daripadanya, ia terus membawa cara lamanya seolah-olah Dia tidak pernah merayu kepada Kami memohon hapuskan sebarang kesusahan Yang menimpanya (sebagaimana ia memandang eloknya bawaan itu) Demikianlah diperelokkan pada pandangan orang-orang Yang melampau apa Yang mereka lakukan.
13. dan Sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat Yang terdahulu daripada kamu semasa mereka berlaku zalim padahal telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka membawa keterangan-keterangan, dan mereka masih juga tidak beriman. Demikianlah Kami membalas kaum Yang melakukan kesalahan.
14. kemudian Kami jadikan kamu (Wahai umat Muhammad) khalifah-khalifah di bumi menggantikan mereka Yang telah dibinasakan itu, supaya Kami melihat apa pula corak dan bentuk kelakuan Yang kamu akan lakukan.
15. dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami Yang jelas nyata, berkatalah orang-orang Yang tidak menaruh ingatan menemui Kami (untuk menerima balasan): "Bawalah Quran Yang lain daripada ini atau tukarkanlah Dia ". Katakanlah (Wahai Muhammad): "Aku tidak berhak menukarkannya Dengan kemahuanku sendiri, Aku hanya tetap menurut apa Yang diwahyukan kepadaKu sahaja. Sesungguhnya Aku takut, - jika Aku menderhaka kepada Tuhanku, - akan azab hari Yang besar (soal jawabnya)".
16. Katakanlah (Wahai Muhammad): "Jika Allah kehendaki (supaya Aku tidak membacakan Al-Quran ini kepada kamu), tentulah Aku tidak dapat membacakannya kepada kamu, dan tentulah ia tidak memberitahu kamu akan Al-Quran ini (dengan perantaraanku); kerana Sesungguhnya Aku telah tinggal Dalam kalangan kamu satu masa Yang lanjut (dan kamu pula mengenal Aku sebagai seorang Yang amanah) sebelum turunnya Al-Quran ini; maka mengapa kamu tidak mahu memikirkannya?"
17. Dengan Yang demikian, tidaklah ada Yang lebih zalim daripada orang Yang berdusta terhadap Allah, atau Yang mendustakan ayat-ayatNya. Sesungguhnya orang-orang Yang berdosa itu tidak akan berjaya.
18. dan mereka menyembah Yang lain dari Allah, sesuatu Yang tidak dapat mendatangkan mudarat kepada mereka dan tidak dapat mendatangkan manfaat kepada mereka dan mereka pula berkata: "Mereka (yang Kami sembah itu) ialah pemberi-pemberi syafaat kepada Kami di sisi Allah". Katakanlah (Wahai Muhammad): "Adakah kamu hendak memberitahu kepada Allah akan apa Yang ia tidak mengetahui adanya di langit dan di bumi (padahal Allah mengetahui segala-galanya)? Maha suci Allah dan tertinggi keadaannya dari apa Yang mereka sekutukan."
19. dan (ketahuilah bahawa) manusia pada mulanya tidak memeluk melainkan ugama Yang satu (ugama Allah), kemudian (dengan sebab menurut hawa nafsu dan Syaitan) mereka berselisihan. dan kalau tidaklah kerana telah terdahulu kalimah ketetapan dari Tuhanmu (untuk menangguhkan hukuman hingga hari kiamat), tentulah telah diputuskan hukuman di antara mereka (dengan segeranya di dunia) mengenai apa Yang mereka perselisihkan itu.
20. dan mereka Yang ingkar itu berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepada (Muhammad) satu mukjizat dari Tuhannya? "Maka jawablah (Wahai Muhammad): "Sesungguhnya perkara Yang ghaib itu tertentu bagi Allah; oleh itu tunggulah (hukuman Allah), Sesungguhnya Aku juga di antara orang-orang Yang menunggu.
21. dan apabila Kami beri manusia merasai sesuatu rahmat sesudah mereka ditimpa sesuatu kesusahan, mereka Dengan serta-merta melakukan rancangan mereka menentang ayat-ayat keterangan Kami Dengan mendustakannya dan mengingkarinya. Katakanlah (Wahai Muhammad): "Allah lebih cepat melakukan rancangan menentangnya!" Sesungguhnya malaikat-malaikat utusan Kami sentiasa menulis akan rancangan tipu daya Yang kamu jalankan itu.
22. Dia lah Yang menjalankan kamu di darat dan di laut (dengan diberi kemudahan menggunakan berbagai jenis kenderaan); sehingga apabila kamu berada di Dalam bahtera, dan bahtera itu pula bergerak laju membawa penumpang-penumpangnya Dengan tiupan angin Yang baik, dan mereka pun bersukacita dengannya; tiba-tiba datanglah kepadanya angin ribut Yang kencang, dan mereka pula didatangi ombak menimpa dari Segala penjuru, serta mereka percaya Bahawa mereka diliputi oleh bahaya; pada saat itu mereka semua berdoa kepada Allah Dengan mengikhlaskan kepercayaan mereka kepadanya semata-mata (sambil merayu Dengan berkata): "Demi sesungguhnya! jika Engkau (Ya Allah) selamatkan Kami dari bahaya ini, Kami tetap menjadi orang-orang Yang bersyukur".

2. Akal

Dengan merenungi fenomena alam maupun penalaran logis manusia bisa menenal Allah. Banyak argumentasi yang digunakan, misalnya dalil keteraturan, dalil keindahan, dalil kausalitas, dll.
3. Wahyu
Melalui informasi Allah kepada Rasul, yang kemudian disampaikan kepada seluruh manusia (20 :14)
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي (١٤)
14. "Sesungguhnya Akulah Allah; tiada Tuhan melainkan Aku; oleh itu, Sembahlah akan daku, dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati daku.
TAUHID
Tauhid yang berarti mengesakan Allah, lawannya adalah Syirk yang berarti menyekutukan Allah. Tauhid memiliki 2 aspek :

1. Tauhid Ilmi (teoritis)

Yaitu pemahaman yang benar mengenai Allah SWT. Tauhid teoritis menjauhkan manusia dari pemahaman yang salah mengenai Allah.
Tauhid memandang Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Keesaan Allah meliputi baik Zat-Nya (Tauhid Zati), Sifat-Nya (Tauhid Sifati), dan Perbuatan-Nya (Tauhid Fi'li).
Tauhid Zati berarti bahwa Allah merupakan Tuhan Yang Mutlah (Absolut), Sumber Segala Sesuatu, yang tak memiliki penyerupaan dan pembanding (Distinct). Dan bahwa Dia adalah Pencipta, Wajibul wujud, yang Esa (Unique) QS 112:1-4
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (١)اللَّهُ الصَّمَدُ (٢)لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣)وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (٤)
1. Katakanlah (Wahai Muhammad): "(Tuhanku) ialah Allah Yang Maha Esa;
2. "Allah Yang menjadi tumpuan sekalian makhluk untuk memohon sebarang hajat;
3. "Ia tiada beranak, dan ia pula tidak diperanakkan;
4. "Dan tidak ada sesiapapun Yang serupa denganNya".
Tauhid Shifati berarti bahwa Allah memiliki pelbagai Sifat dan Nama-nama yang Baik (Asmaul-Husna), yang terpelihara dari kelemahan (QS 59:22- 24).
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (٢٢)هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (٢٣)هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٢٤)
22. Dia lah Allah, Yang tidak ada Tuhan melainkan dia; Yang mengetahui perkara Yang ghaib dan Yang nyata; Dia lah Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.
23. Dia lah Allah, Yang tidak ada Tuhan melainkan dia; Yang Menguasai (sekalian alam); Yang Maha Suci; Yang Maha Selamat sejahtera (dari Segala kekurangan); Yang Maha melimpahkan Keamanan; Yang Maha pengawal serta Pengawas; Yang Maha Kuasa; Yang Maha kuat (menundukkan segala-galanya); Yang Melengkapi Segala KebesaranNya. Maha suci Allah dari Segala Yang mereka sekutukan dengannya.
24. Dia lah Allah, Yang menciptakan sekalian makhluk; Yang mengadakan (dari tiada kepada ada); Yang membentuk rupa (makhluk-makhlukNya menurut Yang dikehendakiNya); bagiNyalah nama-nama Yang sebaik-baiknya dan semulia-mulianya; bertasbih kepadanya Segala Yang ada di langit dan di bumi; dan Dia lah Yang tiada bandingNya, lagi Maha Bijaksana.


 Dengan nama-nama itu kita menyeru kepadanya (17:110, 7:180)
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا (١١٠)
110. Katakanlah (Wahai Muhammad): "Serulah nama " Allah" atau nama "Ar-Rahman", Yang mana sahaja kamu serukan (dari kedua-dua nama itu adalah baik belaka); kerana Allah mempunyai banyak nama-nama Yang baik serta mulia". dan janganlah Engkau nyaringkan bacaan doa atau sembahyangmu, juga janganlah Engkau perlahankannya, dan gunakanlah sahaja satu cara Yang sederhana antara itu.
وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٨٠)
180. dan Allah mempunyai nama-nama Yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepadanya Dengan menyebut nama-nama itu, dan pulaukanlah orang-orang Yang berpaling dari kebenaran Dalam masa menggunakan nama-namaNya. mereka akan mendapat balasan mengenai apa Yang mereka telah kerjakan.
Tauhid Fi'li berarti bahwa Allah adalah Penguasa (Rabb) seluruh alam semesta, bahwa semua partikel dan kesadaran bergerak karena kuasa dan kehendak Allah.
Dengan demikian Tauhid menentang segala faham yang menyekutukan Allah (Syirk), baik :
- meniadakan-Nya (Atheis),
- membilangkan-Nya (Politeis, Trinitas dan Dualisme Tuhan),
- Mensifati dengan sifat nisbi seperti beranak, lupa, beristri , dll.
- Menyembah makhluk, seperti matahari, bulan, jin, manusia, dll


2. Tauhid Amali

Sebagai konsekuensi Tauhid Ilmi adalah tauhid amali, yaitu sikap dan perbuatan untuk meng-esakan Allah. Mengesakan Allah dalam sikap dan perbuatan itulah yang disebut ibadah. Ibadah adalah mengikuti perintah/syari'at-Nya. Sedang lawannya adalah ma'syiat, yaitu memuja/memperturutkan selain kepada Allah.
Agar bisa melaksanakan tauhid dalam amal (tauhid amali), manusia harus menundukkan hawa nafsunya agar bisa tunduk kepada syari'at-Nya. Jika tidak mampu maka justru hawa nafsu yang akan menjadi tuhannya (25 : 43, 45 : 23)
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلا (٤٣)
43. Nampakkah (Wahai Muhammad) keburukan keadaan orang Yang menjadikan hawa nafsunya: Tuhan Yang dipuja lagi ditaati? maka Dapatkah Engkau menjadi Pengawas Yang menjaganya jangan sesat?
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (٢٣)
23. Dengan Yang demikian, Bagaimana fikiranmu (Wahai Muhammad) terhadap orang Yang menjadikan hawa nafsunya: Tuhan Yang dipatuhinya, dan ia pula disesatkan oleh Allah kerana diketahuiNya (bahawa ia tetap kufur ingkar), dan dimeteraikan pula atas pendengarannya dan hatinya, serta diadakan lapisan penutup atas penglihatannya? maka siapakah lagi Yang dapat memberi hidayah petunjuk kepadanya sesudah Allah (menjadikan Dia berkeadaan demikian)? oleh itu, mengapa kamu (Wahai orang-orang Yang ingkar) tidak ingat dan insaf?
Tauhid ini akan membebaskan manusia dari penyembahan kepada makhluk menuju penyembahan kepada Allah SWT semata. Dalam Al-Quran yang disembah selain Allah, sering disebut dengan thaghut (thagha : melampaui batas, tirani).   Toghut/tirani bisa berupa alam (6 :76 -78)
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ (٧٦)فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (٧٧)فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (٧٨)
76. maka ketika ia berada pada waktu malam Yang gelap, ia melihat sebuah bintang (bersinar-sinar), lalu ia berkata: "Inikah Tuhanku?" kemudian apabila bintang itu terbenam, ia berkata pula: "Aku tidak suka kepada Yang terbenam hilang".
77. kemudian apabila dilihatnya bulan terbit (menyinarkan cahayanya), Dia berkata: "Inikah Tuhanku?" maka setelah bulan itu terbenam, berkatalah dia: "Demi sesungguhnya, jika Aku tidak diberikan petunjuk oleh Tuhanku, nescaya menjadilah Aku dari kaum Yang sesat".
78. kemudian apabila Dia melihat matahari sedang terbit (menyinarkan cahayanya), berkatalah dia: "Inikah Tuhanku? ini lebih besar". setelah matahari terbenam, Dia berkata pula: ` Wahai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri (bersih) dari apa Yang kamu sekutukan (Allah dengannya).
, berhala (buatan manusia, 16 : 20-22)
وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ (٢٠)أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ (٢١)إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَالَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ (٢٢)
20. dan makhluk-makhluk Yang mereka sembah selain dari Allah itu tidak dapat menciptakan sesuatupun, bahkah merekalah Yang diciptakan.
21. makhluk-makhluk itu tetap akan mati, bukanlah kekal hidup; dan mereka tidak mengetahui Bilakah masing-masing akan dibangkitkan (menerima balasan).
22. Tuhan kamu (yang berhak disembah) ialah Tuhan Yang satu (Maha Esa); oleh itu, orang-orang Yang tidak beriman kepada hari akhirat: hati mereka ingkar dan sikap zahir mereka sombong takbur (menentang kebenaran).
, manusia lain (spt. pemimpin, 33 : 67)
وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلا (٦٧)
67. dan mereka berkata lagi: "Wahai Tuhan kami, Sesungguhnya Kami telah mematuhi kehendak ketua-ketua dan orang-orang besar kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan Yang benar.
, tradisi (2 :170)
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ (١٧٠)
170. dan apabila dikatakan kepada mereka" Turutlah akan apa Yang telah diturunkan oleh Allah" mereka menjawab: "(Tidak), bahkan Kami (hanya) menurut apa Yang Kami dapati datuk nenek Kami melakukannya". Patutkah (Mereka menurutnya) sekalipun datuk neneknya itu tidak faham sesuatu (Apa pun tentang perkara-perkara ugama), dan tidak pula mendapat petunjuk hidayah (dari Allah)?
, maupun diri sendiri (25 : 43).
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلا (٤٣)
43. Nampakkah (Wahai Muhammad) keburukan keadaan orang Yang menjadikan hawa nafsunya: Tuhan Yang dipuja lagi ditaati? maka Dapatkah Engkau menjadi Pengawas Yang menjaganya jangan sesat?

Senin, 20 Desember 2010

Hari, bulan, dan amalan yang paling baik

Hari, bulan, dan amalan yang paling baik
Ketika ditanya hari, bulan, dan amalan yang paling baik, Ibnu Abbas menjawab, " Hari yang paling baik adalah hari Jum'at, bulan yang paling baik adalah bulan ramadhan, dan amal yang paling baik adalah shalat lima waktu tepat pada waktunya. Kemudian Ibnu Abbas meninggal dunia pada hari tersebut. Tiga hari sesudah Ibnu Abbas meninggal, sampilah berita kepada Ali ra. bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya tentang tiga hal tersebut dan Ibnu Abbas menjawab dengan tiga jawaban tersebut.

Ali ra. berkata, " Apabila para ulama, hukama, dan fuqaha, dari Masyrik sampai Maghrib ditanya tentang hal itu, pasti mereka akan menjawab seperti jawaban Ibnu Abbas, kecuali saya, yang akan menjawab sebagai berikut : amal yang paling baik adalah amal yang diterima di sisi Allah, bulan yang palin baik adalah bulan di mana kamu bertobat kepada Allah dengan tobat yang sempurna, dan sebaik-baik hari adalah hari di mana kamu mati kembali kepada Allah dalam keadaan iman kepadanya."
Ibnu Abbas mengatakan, bahwa yang disebut Tobat Nasuha adalah :" Menyesali dosa yang ia kerjakan memohon ampun dengan lisan, mencabut/menghentikan perbuatan maksiat itu dengan anggota badan, dan berjanji tidak akan kembali melakukan hal-hal yang dilarang Allah Swt."

" Tobat Mashuha adalah tobat yang sesudah tobatnya itu tidak mengulangi berbuat maksiat baik secara rahasia ataupun secara terang-terangan." 


" Tobatan Nashuha adalah tobat yang mewariskan kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi orang yang melakukannya."

Nashoihul Ibad Makalah Keempat Puluh

Selasa, 17 Agustus 2010

Mutiara Hikmah 4 Kata

Mutiara Hikmah 4 Kata

  • Rasulullah SAW bersabda :
  1. Bintang-gemintang adalah pengaman, bagi penduduk di atas awan. Apabila ia terpendar murai, sungguh aku tak tahu apa yang akan terjadi.
  2. Ahli baitku adalah penjaga, bagi seluruh ummat yang ada. Apabila mereka telah tiada, maka hukum Ilahi yang berbicara.
  3. Aku adalah pelindung, bagi sahabat-sahabatku kini. Jika nanti aku mati, itulah hukum Allah yang menggariskan.
  4. Gunung-gunung adalah pengukuh, bagi penghuni bumi secara utuh. Jika pun nanti ia tercerai-berai, terserah amar Allah akan menyikapi.
  • Rasulullah SAW pernah berkata kepada Abu Dzar Al-Ghifari :
  1. Abu Dzar, benahilah bahtera, sebab samudera hidup teramat dalam airnya.
  2. Siapkanlah bekal sebanyak-banyaknya, sebab perjalanan diri masih teramat lama.
  3. Ringankanlah beban di pundakmu, sebab jalan yang engkau tempuh terjal berliku.
  4. Sucikanlah perbuatanmu, sebab penyelidik selalu saja memantaumu.

  • Rasulullah SAW bersabda :
Tanda-tanda orang celaka adalah :
  1. Lupa dosa masa lampau, padahal Allah mencatatnya.
  2. Ingat kebaikannya yang telah lalu, padahal belum tentu diterima.
  3. Dalam hal duniawi, memandang orang yang setingkat di atasnya.
  4. Dalam hal ukhrawi, memandang orang yang sederajat di bawahnya.
Sedangkan tanda-tanda orang bahagia adalah :
  1. Ingat kesalahan yang dilakukan.
  2. Tidak mengagungkan kebaikan yang diamalkan.
  3. Dalam hal duniawi, melihat betapa banyak orang yang di bawahnya.
  4. Dalam hal ukhrawi, melihat betapa amal baktinya belum seberapa.
  • Rasulullah SAW bersabda :
  1. Shalat adalah tiang agama.
  2. Amal sedekah padamkan murka.
  3. Puasa membuat selamat dari neraka.
  4. Jihad merupakan geraham agama.
  • Abu Bakar ra berkata :
Empat hal akan sempurna, dengan hadirnya empat perkara :
  1. Kesempurnaan shalat dengan sujud sahwi.
  2. Kesempurnaan puasa dengan zakati diri.
  3. Kesempurnaan haji dengan membayar fidyah.
  4. Kesempurnaan iman dengan jihad fi sabilillah.
  • Umar ra berkata :
Ada empat macam lautan, yaitu :
  1. Lautan dosa adalah hawa.
  2. Lautan syahwat adalah nafsu.
  3. Lautan usia adalah kematian.
  4. Lautan penyesalan adalah kuburan.
  • Utsman ra berkata :
Aku dapati manusia berbakti pada empat intisari berbakti :
  1. Menjalani perintah Ilahi.
  2. Menjauhi larangan Allah Yang Maha Tinggi.
  3. Amar ma’ruf dan mengharap pahala.
  4. Nahi munkar dan menghindari murka.
Empat keutamaan mengandung kewajiban :
  1. Bergaul orang saleh itu utama, mengikuti jejaknya adalah kewajiban.
  2. Membaca al-Qur’an itu mulia, mengaplikasikannya adalah sebuah keharusan.
  3. Ziarah kubur itu utama, bersiap diri menuju ke sana adalah kewajiban.
  4. Menengok orang sakit itu mulia, sedang meminta wasiat adalah keharusan.
  • Abdullah bin Mubarak berkata :
  1. Hak-hak shalat telah terpenuhi apabila seseorang telah menjalani dua belas rakaat sunnah dalam sehari.
  2. Hak-hak puasa telah terselesaikan apabila seseorang telah melaksanakan tiga hari puasa sunnah dalam sebulan.
  3. Hak-hak baca telah terlunasi jika seseorang telah mengaji seratus ayat Al-Qur’an dalam sehari.
  4. Hak-hak sedekah telah tersalurkan apabila seseorang telah mendermakan satu dirham hartanya dalam sepekan.
  • Hatim Al-Asham berkata :
  1. Adalah dusta orang yang mengaku cinta Allah, tapi tak pernah peduli akan larangan-Nya.
  2. Orang yang mengaku cinta Rasul, tapi menelantarkan fakir miskin di sekitarnya.
  3. Orang yang mengaku takut neraka, namun tak indahkan dosa-dosa.
  4. Orang yang mengaku cinta surga, namun tak mau mendermakan hartanya.
  • Abdullah bin Mas`ud ra berkata :
Penyebab hati menjadi mati adalah :
  1. Terlalu banyak makan.
  2. Berteman dengan orang zalim dan ikut haluannya.
  3. Melupakan dosa-doa yang pernah dilakukan.
  4. Menumpuk tinggi angan-angan.
Sedang penerang hati adalah :
  1. Makan sekadarnya.
  2. Berteman dengan orang-orang saleh dan mengikutinya.
  3. Ingat dosa yang pernah dilakukannya.
  4. Membangun harapan sesuai kemampuan.
  • Seorang filosuf berkata :
Dari empat hal kebaikan, muncul darinya empat hal yang lebih baik, yaitu :
  1. Rasa malu bagi laki-laki adalah baik, namun bagi perempuan, itu lebih baik.
  2. Bersikap adil bagi setiap orang adalah baik, namun bagi penguasa, jauh lebih baik.
  3. Taubat oleh orang tua adalah baik, namun oleh anak muda, jauh lebih baik.
  4. Murah hati bagi orang kaya adalah baik, namun bagi orang miskin tentu lebih baik.
  • Seorang penyair berkata :
  1. Adalah wajib bagi manusia, untuk bertobat dari dosa, namun ada yang lebih wajib baginya, ialah meninggalkan dosa-dosa.
  2. Adalah berat bagi setiap insan, untuk bertabah atas cobaan, namun jauh lebih memberatkan, jika ia tak punya pahala di sisi Tuhan.
  3. Adalah menakjubkan, jika seorang hamba berbakti sepanjang hari, namun lebih menakjubkan, bila ada seorang abdi lupa diri.
  4. Adalah teramat dekat, sesuatu yang akan terjadi, namun jauh lebih dekat, ajal datangnya mati.

Ilmu Dan Harta

Ilmu dan Harta
  1.  Ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta warisan si Qorun.
  2. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta haruslah kau yang menjaganya.
  3. Pemilik ilmu punya banyak teman, sedangkan pemilik harta punya banyak musuh.
  4. Jika ilmu dipergunakan akan bertambah, sedangkan harta dipergunakan akan berkurang.
  5. Ilmu takkan pernah tercuri, sedangkan harta mudah dicuri.
  6. Pemilik ilmu akan selalu disebut mulia dan terhormat, sedangkan pemilik harta akan disebut pelit dan rakus.
  7. Ilmu itu abadi, sedangkan harta akan musnah.
  8. Ilmu akan menyinari hati, sedangkan harta akan mengeraskan hati.
  9. Pemilik ilmu akan diberi syafa’at di akhirat, sedangkan pemilik harta akan dihisab.
  10. Pemilik ilmu akan dimuliakan walaupun sedikit ilmunya, sedangkan pemilik harta disebut besar setelah banyak hartanya.
(Kata-Kata Hikmah Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah)

Minggu, 11 Juli 2010

ﺍﻠﻌﻗﻴﺩﺓﺍﻠﻤﺠﻤﻠﺔ Al Aqidatul Mujmalah


ﺍﻠﻌﻗﻴﺩﺓﺍﻠﻤﺠﻤﻠﺔ
AL AQIDATUL MUJMALAH
ﺒﺴﻡﺍﷲﺍﻠﺭﺤﻤﻥﺍﻠﺭﺤﻴﻡ
Bismillaahirrahmaanirrahiim
ﻭﺒﻌﺩ ﻓﺈﻨﺎﻭﺍﻠﺤﺩﷲ ﻗﺩ ﺭﻀﻴﻨﺎﺒﺎﷲ ﺭﺒﺎ
Wa ba’du fainnaa wal hamdulillaahi qod rodhiinaa billaahi robbaan,
Dan kemudian maka sesunggunya kami dan segala puji bagi Allah sesungguhnya kami ridho dengan Allah Tuhan

ﻭﺒﺎﻻﺴﻼﻡﺩﻴﻨﺎ‚ﻭﺒﻤﺤﻤﺩ ﻨﺒﻴﺎﻭﺭﺴﻭﻻ
Wa bil-Islaami diinaan, wa bi-Muhammadin nabiya^n wa rasuulaan,
Dan dengan Islam agama, dan dengan nabi Muhammad Nabi dan Rasul
ﻭﺒﺎﻗﺭﺁﻥﺇﻤﺎﻤﺎ‚ﻭﺒﺎﻠﻜﻌﺒﺔﻗﺒﻠﺔ‚
Wa bil-quraani imaamaan, wa bil-ka’bati qiblatan,
Dan dengan kitab Qur’an Imam dan dengan Ka’bah Qiblat
ﻭﺒﺎﻤﺅﻤﻨﻴﻥﺇﺨﻭﺍﻨﺎ‚ﻭﺘﺒﺭﺃﻨﺎﻤﻥﻜﻝﺩﻴﻥﻴﺨﺎﻠﻑﺩﻴﻥﺍﻻﺴﻼﻡ‚
Wa bil-mu’miniina ikhwaanaan, wa tabarro’na min kulli diinin yukhoolifu diinal-Islaam.
Dan dengan sekalian Mu’minin saudara dan kami berlepas dari pada tiap-tiap agama yang menyalahi agama Islam.
ﻭﺁﻤﻨﺎﺒﻜﻝﻜﺘﺎﺏﺍﻨﺯﻠﻪﷲ
Wa aamannaa bi-kulli kitaabin  anzalahulloohu
Dan kami percaya dengan sekalian Kitab yang Allah turunkan akan dia
ﻭﺒﻜﻝﺭﺴﻭﻝﺍﺭﺴﻠﻪﷲ
Wa bi-kulli rasuulin arsalahulloohu
Dan dengan sekalian Rasul yang Allah bangkitkan akan dia.
ﻭﺒﻤﻼﺌﻜﺔﺍﷲ‚ﻭﺒﺎﻠﻗﺩﺭﺨﻴﺭﻩﻭﺸﺭﻩﻭﺒﺎﻠﻴﻭﻡﺍﻵﺨﺭ
Wa bi-malaaikatillaahi, wa bil-qodari khoirihi wa syarrihi wa bil-yaumil aakhiri.
Dan dengan sekalian Malaikat Allah, dan dengan qadar baiknya dan buruknya dan dengan hari qiamat.
ﻭﺒﻜﻝﻤﺎﺠﺎﺀﺒﻪﻤﺤﻤﺩﺭﺴﻭﻝﺍﷲﺼﻠﻰﺍﷲﻋﻠﻴﻪﻭﺴﻠﻡﻋﻥﺍﷲ
Wa bi-kulli maajaa a bihi Muhammadin  rasuulullaahi shallallaahu ‘alaihi wasallam ‘anillaahi.
Dan tiap-tiap barang yang datang dengan dia oleh nabi  Muhammad SAW daripada Allah
ﻋﻠﻰﺫﻠﻙﻨﺤﻴﺎﻭﻋﻠﻴﻪﻨﻤﻭﺕ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﻨﺒﻌﺙ ﺍﻥﺸﺎﺀﺍﷲ ﻤﻥﺍﻻﻤﻨﻴﻥ
Ala dzaalika nahyaa wa ’alaihi namuutu wa  ‘alaihi nub’atsu insya Allaahu minal ‘aaminiin
Atas yang demikian kami hidup dan di atasnya kami mati dan di atasnya kami dibangkit insya Allah dari pada orang yang aman (sentausa)
ﺍﻠﺫﻴﻥﻻﺤﻭﻑﻋﻠﻴﻫﻡﻭﻻﻫﻡﻴﺤﺯﻨﻭﻥ
Alladziina laa haufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun
Yang tidak takut atas mereka dan tidaklah mereka itu berduka cita.
ﺒﻓﻀﻙﺍﻠﻠﻬﻡﻴﺎﺭﺏﺍﻠﻌﺎﻠﻤﻴﻥ
Bi-fadhlikallaahumma ya Rabbal ‘aalamiin
Dengan kurnia Engkau wahai Tuhan Seru Sekalian Alam.
ﺘﻤﺕﺍﻠﻌﻗﺩﺓﺍﻠﻤﺠﻤﻠﺔ
ﻭﺍﻠﺤﻤﺩﷲﺍﻭﻻﻭﺁﺨﺭﺍ
ﺁﻤﻴﻥ
ﺩﺘﻭﻠﺱﺍﻭﻠﻪ:ﺍﺤﻤﺩﺯﻫﺭﺍﻠﺩﻴﻥ
Dari Risalah Aqidah2 yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah  yang disusun oleh :
Alm. KH. Abdullah Syafi’i

UMMAT TERBAIK

UMMAT TERBAIK
KH. Abdul Rasyid AS, Pimpinan Perguruan As Syafiiyyah













Firman Allah:
ﻜﻨﺘﻡﺨﻴﺭﺍﻤﺔﺍﺨﺭﺠﺕﻠﻠﻨﺎﺱﺘﺄﻤﻭﻥﺒﺎﻠﻤﻌﺭﻭﻑﻭﺘﻨﻬﻭﻥﻋﻥﺍﻠﻤﻨﻜﺭﻭﺘﺅﻤﻨﻭﺒﺎﷲ
“Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran 110).
Firman Allah SWT di atas merupakan pernyataan dari Allah Swt bahwa umat Sayidina Muhammad Saw., yakni kaum muslimin, sebagai umat yang terbaik di antara umat manusia di muka bumi. Imam Qurtubi dalam tafsirnya mengutip sebuah hadits dari Bahz bin Hakim bahwa tatkala membaca ayat ini Rasulullah bersabda : “Kalian adalah penyempurna dari 70 umat, kalian yang terbaik di antara mereka dan termulia di sisi Allah” (HR. At Tirmidzi).
Menurut Imam Al Qurtubi dan Imam Ibnu Katsir, predikat tersebut sama dengan “ummatan wasathan” yang Allah sebut dengan firmanNya : “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” (QS. Al Baqarah 143).
Berkaitan dengan kondisi umat yang terpuruk saat ini, ada yang bertanya apakah predikat tersebut hanya untuk kaum muslimin terdahulu, yakni di masa shahabat, ataukah hingga hari kiamat?
Menurut Ibnu Abbas ra., sebagaimana dikutip Imam Qurtubi, kelompok orang yang berpredikat umat terbaik yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah orang-orang yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah, yang ikut dalam perang Badar, dan ikut dalam perjanjian Hudaibiyah. Namun Umar bin Khaththab mengatakan siapa saja yang beramal seperti mereka, levelnya seperti mereka.
Imam Az Zamkahsyari dalam tafsirnya Al Kasysyaf Juz I/392 menyebutkan dikatakan bahwa dalam ilmu Allah kalian adalah ummat terbaik. Juga kata beliau bisa diartikan bahwa kalian disebut-sebut dikalangan umat-umat terdahulu sebagai khairu ummah.
Apakah yang terbaik di antara umat Islam ini, yang awal ataukan yang akhir? Imam Al Qurtubi dalam tafsirnya mengutip sebuah riwayat hadits, bahwa Rasulullah Saw : “Umatku bagaikan hujan, tak diketahui, yang lebih baik itu yang pertama ataukah yang terakhir” (HR. Abu Dawud At Thayalisi dan Abu Isa At Tirmidzi).
Artinya, kalau dulu sudah muncul umat yang terbaik, bukan tidak mungkin di masa mendatang akan muncul kembali.
Keunggulan Umat Terbaik
Keunggulan kaum muslimin yang menjadi umat terbaik ini di antara umat manusia disebut oleh Abu Hurairah ra., (lihat Al Qurtubi, idem) dalam ucapannya : “Kami adalah yang terbaik di antara manusia, kami mengarahkan mereka untuk menapaki jalan menuju kepada Islam”
Dan dengan cepatnya umat terbaik yang senantiasa membimbing umat manusia ke jalan Islam, mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia, membuka berbagai wilayah bagi kedaulatan Islam, serta mendapati umat manusia dari berbagai bangsa, bahasa, negara dan adat istiadat menerima Islam sebagai keyakinan dan aturan hukum buat kehidupan mereka.
Mereka mengarahkan pikiran manusia dengan cara yang argumentatif, logis sebagaimana diajarkan oleh Allah Swt agar senantiasa mengajak manusia berfikir dengan bukti-bukti yang nyata, yakni dakwah bil hikmah (QS. An Nahl 125). Apabila ada halangan fisik terhadap dakwah, mereka dengan gagah berani menyingkirkan halangan fisik itu dengan jihad fi sabilillah. Dan karena mereka adalah manusia unggulan, dalam perang pemikiran maupun perang fisik pun mereka senantiasa unggul..
Allah Swt menjamin kualitas unggulan mereka dalam firmanNya :”Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu dari pada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tak mengerti” (QS. Al Anfal 65).
Jelaslah bahwa kualitas umat terbaik itu dibandingkan dengan rang-orang kafir, atau umat-umat lain, adalah 1 orang muslim mampu mengalahkan 10 orang kafir. Itu dalam kondisi prima, dalam kondisi kaum muslimin ada kelemahan, Allah Swt masih memberikan garansi bahwa kaum muslimin akan sanggup mengalahkan kekuatan orang kafir yang jumlahnya dua kali lipat kekuatan mereka (QS. Al Anfaal 66). Sejarah mencatat bahwa di masa Khalifah Umar bin al Khaththab tentara kaum musilmin menaklukkan adidaya Rumawi dan Persia.
Syarat Umat Terbaik

Mujahid, sebagaimana dikutip Imam Al Qurtubi, mengatakan bahwa keunggulan umat Islam itu dengan syarat memenuhi sifat-sifat yang disebut dalam ayat itu. Ada tiga sifat yang dimiliki oleh ummat pengemban risalah Muhammad SAW ini yang menyertai predikat anugerah Allah SWT sebagai ummat yang terbaik, yakni : “Menyuruh kepada yang yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar dan Beriman kepada Allah SWT.
Itulah tiga sifat yang menjadi unsur-unsur kebaikan umat Rasulullah SAW. Perlu dipahami, bahwa iman kepada Allah SWT tentu harus ada terlebih dahulu sebelum amar ma’ruf nahi mungkar. Demikian pula iman kepada risalah Islam. Sebab aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar tidak ditentukan oleh tradisi masyarakat, melainkan oleh syari’at yang diturunkan oleh Allah SWT.

Menurut Imam Az Zamaksyari (idem), penyebutan iman kepada Allah SWT dalam ayat ini berarti termasuk juga iman kepada segala yang diwajibkan oleh iman kepada Allah SWT, seperti iman kepada rasul-Nya, kitab-Nya, hari kebangkitan, hari perhitungan, pahala dan siksa dll. Menurutnya, jika tidak disertai iman kepada itu semua belum terhitung sebagai iman kepada Allah SWT. (lihat QS. An Nisa 150-151).

Dalam konteks kekinian, ketertarikan sebagian umat Islam kepada ideologi dan sistem hidup selain Islam, seperti sosialisme, komunisme, kapitalisme, sekulerisme dan lain-lain pandangan hidup yang bertentangan dengan Islam, bisa menjadikan mereka tergelincir dari keimanan kepada Allah Swt yang sebenarnya. Akibatnya, mereka tak bakal menemukan kehidupan yang bahagia dan sejahtera di bawah naungan Islam. Apalagi mendapatkan gelar umat terbaik.

Dalam mengulas ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyertakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Durrah binti Abi Lahab berkata : Bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW pada waktu beliau berpidato di mimbar : Siapakah orang yang terbaik yang Rasullah? Rasululah SAW menjawab :

“Manusia yang terbaik adalah manusia yang paling banyak membaca, paling bertaqwa kepada Allah SWT, paling giat melakukan amar ma’ruf nahi mngkar dan paling suka bersilaturahmi”.

Kesimpulan
Predikat umat terbaik akan bisa terwujud kembali pada umat ini manakala umat ini berhasil mewujudkan kondisi yang kondusif bagi terpenuhinya syarat-syarat umat terbaik, yakni secara pribadi maupun komunal, umat Islam mewujudkan keimanan mereka kepada Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan, dan secara mantap melaksanakan mekanisme controlnya, yakni senantiasa menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Dengan demikian perintah dan larangan Allah SWT alias halal-haram menjadi standar umum di masyarakat dalam rangka mengatur interaksi antar individu dan kelompok dalam masyarakat. Wallahua’lam!

Sabtu, 17 April 2010

Hukum Transaksi via Elektronik

Sumber :  NU  Online (www.nu.or.id)
Berikut ini adalah salah satu keputusan bahtsul masil diniyah waqi'iyah pada muktamar ke-32 di Makassar, 23-28 Maret 2010. (red)

Kemajuan teknologi dan Informasi telah mengantarkan pada pola kehidupan umat manusia lebih mudah sehingga merubah pola sinteraksi antar anggota masyarakat. Pada era teknologi dan informasi ini, khususnya internet, seseorang dapat melakukan perubahan pola transaksi bisnis, baik berskala kecil mapun besar, yaitu perubahan dari paradigma bisnis konvensional menjadi paradigma bisnis elektronikal. Paradigma baru tersebut dikenal dengan istilaH Electronic Commerce, umumnya disingkat E-Commerce.

Kontrak elektronik adalah sebagai perjanjian para pihak yang dibuat melalui sistem elektronik. Maka jelas bahwa kontrak elektronikal tidak hanya dilakukan melalui internet semata, tetapi juga dapat dilakukan melalui medium faksimili, telegram, telex, internet, dan telepon. Kontrak elektronikal yang menggunakan media informasi dan komunikasi terkadang mengabaikan rukun jual-beli (ba’i), seperti shighat, ijab-qabul, dan syarat pembeli dan penjual yang harus cakap hukum. Bahkan dalam hal transaksi elektronikal ini belum diketahui tingkat keamanan proses transaksi, identifikasi pihak yang berkontrak, pembayaran dan ganti rugi akibat dari kerusakan.  Bahkan akad nikah pun sekarang telah ada yang menggunakan fasilitas telepon atau Cybernet, seperti yang terjadi di Arab Saudi.

Pertanyaan:
1. Bagaimana hukum transaksi via elektronik, seperti media telepon, e-mail atau Cybernet dalam akad jual beli dan akad nikah?
2. Sahkah pelaksanaan akad jual-beli dan akad nikah yang berada di majlis terpisah?
3. Bagaimana hukum melakukan transaksi dengan cara pengiriman SMS dari calon pengantin pria berisi catatan pemberian kuasa hukum (wakalah) kepada seseorang yang hadir di majlis tersebut?

Jawaban:
1. Hukum akad jual beli melalui alat elektronik sah apabila sebelum transaksi kedua belah pihak sudah melihat memenuhi mabi’ (barang yang diperjualbelikan) atau telah dijelaskan baik sifat maupun jenisnya, serta memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukun jual beli lainnya.

Sedangkan hukum pelaksanaan akad nikah melalui alat elektronik tidak sah, karena: (a) kedua saksi tidak melihat dan mendengar secara langsung pelaksanaan akad; (b) saksi tidak hadir di majlis akad; (c) di dalam akad nikah disyaratkan lafal yang sharih (jelas) sedangkan akad melalui alat elektronik tergolong kinayah (samar).

2. Pelaksanaan akad jual-beli meskipun di majlis terpisah tetap sah, sedangkan pelaksanaan akad nikah pelaksanaan akad jual-beli dan akad nikah yang berada di majlis terpisah di majlis terpisah tidak sah.

3. Hukum melakukan akad/transaksi dengan cara pengiriman SMS dari calon pengantin pria berisi catatan wakalah (pemberian kuasa hukum) kepada seseorang yang hadir di majlis tersebut hukumnya sah dengan syarat aman dan sesuai dengan nafsul-amri (sesuai dengan kenyataan).

Pengambilan dalil dari:
1. Nihayatul Muhtaj, Juz 11, hal. 285 (dalam maktabah syamilah)
2. Al-Majmu’, Juz 9, hal. 288.
3. Hasyiyatul Bujairimi ‘alal Manhaj, Juz 11, hal. 476.
4. Hasyiyatul Bujairimi ‘alal Khatib, Juz 2, hal. 403.
5. I’anahtuth Thalibin, Juz 3, hal. 9. Dll.

Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Ma'na Bid’ah

02/03/2010 (NU Online )
Peryataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah amalan bid'ah adalah peryataan sangat tidak tepat, karena bid'ah adalah sesuatu yang baru atau diada-adakan dalam Islam yang tidak ada landasan sama sekali dari dari Al-Qur'an dan as-Sunah. Adapun maulid  walaupun suatu yang baru di dalam Islam akan tetapi memiliki landasan dari Al-Qur'an dan as-Sunah.

Pada maulid Nabi di dalamya banyak sekali nilai ketaatan, seperti: sikap syukur, membaca dan mendengarkan bacaan Al-Quran, bersodaqoh, mendengarkan mauidhoh hasanah atau menuntut ilmu, mendengarkan kembali sejarah dan keteladanan Nabi, dan membaca sholawat yang kesemuanya telah dimaklumi bersama bahwa hal tersebut sangat dianjurkan oleh agama dan ada dalilnya di dalam Al-Qur'an dan as-Sunah.

Pengukhususan Waktu

Ada yang menyatakan bahwa menjadikan maulid dikatakan bid'ah adalah adanya pengkhususan (takhsis) dalam pelakanaan di dalam waktu tertentu, yaitu bulan Rabiul Awal yang hal itu tidak dikhususkan oleh syariat. Pernyataan ini sebenarnaya perlu di tinjau kembali, karena takhsis yang dilarang di dalam Islam ialah takhsis dengan cara meyakini atau menetapkan hukum suatu amal bahwa amal tersebut tidak boleh diamalkan kecuali hari-hari khusus dan pengkhususan tersebut tidak ada landasan dari syar'i sendiri(Dr Alawy bin Shihab, Intabih Dinuka fi Khotir: hal.27).

Hal ini berbeda dengan penempatan waktu perayaan maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal, karena orang yang melaksanakan maulid Nabi sama sekali tidak meyakini, apalagi menetapkan hukum bahwa maulid Nabi tidak boleh dilakukan kecuali bulan Robiul Awal, maulid Nabi bisa diadakan kapan saja, dengan bentuk acara yang berbeda selama ada nilai ketaatan dan tidak bercampur dengan maksiat.

Pengkhususan waktu maulid disini bukan kategori takhsis yang di larang syar'i tersebut, akan tetapi masuk kategori tartib (penertiban).

Pengkhususan waktu tertentu dalam beramal sholihah adalah diperbolehkan, Nabi Muhammad sendiri mengkhusukan hari tertentu untuk beribadah dan berziaroh ke masjid kuba, seperti diriwatkan Ibnu Umar bahwa Nabi Muhammad mendatangi masjid Kuba setiap hari Sabtu dengan jalan kaki atau dengan kendaraan dan sholat sholat dua rekaat di sana (HR Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar mengomentari hadis ini mengatakan: "Bahwa hadis ini disertai banyaknya riwayatnya menunjukan diperbolehkan mengkhususan sebagian hari-hari tertentu dengan amal-amal salihah dan dilakukan terus-menerus".(Fathul Bari 3: hal. 84)

Imam Nawawi juga berkata senada di dalam kitab Syarah Sahih Muslim. Para sahabat Anshor juga menghususkan waktu tertentu untuk berkumpul untuk bersama-sama mengingat nikmat Allah,( yaitu datangnya Nabi SAW) pada hari Jumat atau mereka menyebutnya Yaumul 'Urubah dan direstui Nabi.

Jadi dapat difahami, bahwa pengkhususan dalam jadwal Maulid, Isro' Mi'roj dan yang lainya hanyalah untuk penertiban acara-acara dengan memanfaatkan momen yang sesui, tanpa ada keyakinan apapun, hal ini seperti halnya penertiban atau pengkhususan waktu sekolah, penghususan kelas dan tingkatan sekolah yang kesemuanya tidak pernah dikhususkan oleh syariat, tapi hal ini diperbolehkan untuk ketertiban, dan umumnya tabiat manusia apabila kegiatan tidak terjadwal maka kegiatan tersebut akan mudah diremehkan dan akhirnya dilupakan atau ditinggalkan.

Acara maulid di luar bulan Rabiul Awal sebenarnya telah ada dari dahulu, seperti acara pembacaan kitab Dibagh wal Barjanji atau kitab-kitab yang berisi sholawat-sholawat yang lain yang diadakan satu minggu sekali di desa-desa dan pesantren, hal itu sebenarnya adalah kategori maulid, walaupun di Indonesia masyarakat tidak menyebutnya dengan maulid, dan jika kita berkeliling di negara-negara Islam maka kita akan menemukan bentuk acara dan waktu yang berbeda-beda dalam acara maulid Nabi, karena ekpresi syukur tidak hanya dalam satu waktu tapi harus terus menerus dan dapat berganti-ganti cara, selama ada nilai ketaatan dan tidak dengan jalan maksiat.

Semisal di Yaman, maulid diadakan setiap malam jumat yang berisi bacaan sholawat-sholawat Nabi dan ceramah agama dari para ulama untuk selalu meneladani Nabi. Penjadwalan maulid di bulan Rabiul Awal hanyalah murni budaya manusia, tidak ada kaitanya dengan syariat dan barang siapa yang meyakini bahwa acara maulid tidak boleh diadakan oleh syariat selain bulan Rabiul Awal maka kami sepakat keyakinan ini adalah bid'ah dholalah.

Tak Pernah Dilakukan Zaman Nabi dan Sohabat

Di antara orang yang mengatakan maulid adalah bid'ah adalah karena acara maulid tidak pernah ada di zaman Nabi, sahabat atau kurun salaf. Pendapat ini muncul dari orang yang tidak faham bagaimana cara mengeluarkan hukum(istimbat) dari Al-Quran dan as-Sunah. Sesuatu yang tidak dilakukan Nabi atau Sahabat –dalam term ulama usul fiqih disebut at-tark – dan tidak ada keterangan apakah hal tersebut diperintah atau dilarang maka menurut ulama ushul fiqih hal tersebut tidak bisa dijadikan dalil, baik untuk melarang atau mewajibkan.

Sebagaimana diketahui pengertian as-Sunah adalah perkatakaan, perbuatan dan persetujuan beliau. Adapun at-tark tidak masuk di dalamnya. Sesuatu yang ditinggalkan Nabi atau sohabat mempunyai banyak kemungkinan, sehingga tidak bisa langsung diputuskan hal itu adalah haram atau wajib. Disini akan saya sebutkan alasan-alasan kenapa Nabi meninggalkan sesuatu:

1. Nabi meniggalkan sesuatu karena hal tersebut sudah masuk di dalam ayat atau hadis yang maknanya umum, seperti sudah masuk dalam makna ayat: "Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.''(QS Al-Haj: 77). Kebajikan maknanya adalah umum dan Nabi tidak menjelaskan semua secara rinci.

2. Nabi meninggalkan sesutu karena takut jika hal itu belai lakukan akan dikira umatnya bahwa hal itu adalah wajib dan akan memberatkan umatnya, seperti Nabi meninggalkan sholat tarawih berjamaah bersama sahabat karena khawatir akan dikira sholat terawih adalah wajib.

3. Nabi meninggalkan sesuatu karena takut akan merubah perasaan sahabat, seperti apa yang beliau katakan pada siti Aisyah: "Seaindainya bukan karena kaummu baru masuk Islam sungguh akan aku robohkan Ka'bah dan kemudian saya bangun kembali dengan asas Ibrahim as. Sungguh Quraiys telah membuat bangunan ka'bah menjadi pendek." (HR. Bukhori dan Muslim) Nabi meninggalkan untuk merekontrusi ka'bah karena menjaga hati mualaf ahli Mekah agar tidak terganggu.

4. Nabi meninggalkan sesuatu karena telah menjadi adatnya, seperti di dalam hadis: Nabi disuguhi biawak panggang kemudian Nabi mengulurkan tangannya untuk memakannya, maka ada yang berkata: "itu biawak!", maka Nabi menarik tangannya kembali, dan beliu ditanya: "apakah biawak itu haram? Nabi menjawab: "Tidak, saya belum pernah menemukannya di bumi kaumku, saya merasa jijik!" (QS. Bukhori dan Muslim) hadis ini menunjukan bahwa apa yang ditinggalkan Nabi setelah sebelumnya beliu terima hal itu tidak berarti hal itu adalah haram atau dilarang.

5. Nabi atau sahabat meninggalkan sesuatu karena melakukan yang lebih afdhol. Dan adanya yang lebih utama tidak menunjukan yang diutamai (mafdhul) adalah haram.dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain (untuk lebih luas lih. Syekh Abdullah al Ghomariy. Husnu Tafahum wad Dark limasalatit tark)

Dan Nabi bersabda:" Apa yang dihalalakan Allah di dalam kitab-Nya maka itu adalah halal, dan apa yang diharamkan adalah haram dan apa yang didiamkan maka itu adalah ampunan maka terimalah dari Allah ampunan-Nya dan Allah tidak pernah melupakan sesuatu, kemudian Nabi membaca:" dan tidaklah Tuhanmu lupa".(HR. Abu Dawud, Bazar dll.) dan Nabi juga bersabda: "Sesungguhnya Allah menetapkan kewajiban maka jangan enkau sia-siakan dan menetapkan batasan-batasan maka jangan kau melewatinya dan mengharamkan sesuatu maka jangan kau melanggarnya, dan dia mendiamkan sesuatu karena untuk menjadi rahmat bagi kamu tanpa melupakannya maka janganlah membahasnya".(HR.Daruqutnhi)

Dan Allah berfirman:"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya."(QS.Al Hasr:7) dan Allah tidak berfirman  dan apa yang ditinggalknya maka tinggalkanlah.

Maka dapat disimpulkan bahwa "at-Tark" tidak memberi faidah hukum haram, dan alasan pengharaman maulid dengan alasan karena tidak dilakukan Nabi dan sahabat sama dengan berdalil dengan sesuatu yang tidak bisa dijadikan dalil!

Imam Suyuti menjawab peryataan orang yang mengatakan: "Saya tidak tahu bahwa maulid ada asalnya di Kitab dan Sunah" dengan jawaban: "Tidak mengetahui dalil bukan berarti dalil itu tidak ada", peryataannya Imam Suyutiy ini didasarkan karena beliau sendiri dan Ibnu Hajar al-Asqolaniy telah mampu mengeluarkan dalil-dalil maulid dari as-Sunah. (Syekh Ali Jum'ah. Al-Bayanul  Qowim, hal.28)

Zarnuzi Ghufron
Ketua LMI-PCINU Yaman dan sekarang sedang belajar di Fakultas Syariah wal Qonun  Univ Al-Ahgoff, Hadramaut, Yaman

Pengikut

Suara Qur'an