Dalam Al Qur’an menurut catatan Muhammad Abduh Baqi melalui “ Al-Mu’jam Al-Mafahras Li alfazh Al-Qur’an Al-Karim” kata-kata taqwa dalam berbagai bentuknya itu ada sekitar 239 kali. Dalam ungkapan Indonesia kata taqwa seringkali diartikan “takut” kepada Allah. Jika diartikan takut, tentu filsafat takut tersebut tidak sama seperti seseorang takut kepada makhluk lain.
Taqwa itu lebih dekat lagi bisa dikatakan artinya kepada perasaan segan, kagum, dan cinta kepada Allah SWT, sehingga seseorang yang telah mendalam sifat taqwanya, sudah barangb tentu ia tidak menyimpan rasa takut lagi kepadan siapapun. Sebab dalam pengertian taqwa semacam itu, seseorang akan melaksanakan dengan ikhlas segala apa yang diperintahkan oleh Allah, dan dengan sepenuh hati pula akan menjauhi segala apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
Apabila kita menyimak Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh maka segera kita dapat menyerap betapa banyaknya dimensi taqwa yang terkandung didalamnya. Dari jumlah kata saja, yang dihubungkan dengan berbagai ungkapan, maka jumlahnya melebihi dua ratus. Karena itu logis sekali bila Allah SWT memberikan perintah untuk berbekal taqwa, sebagaimana firman-Nya :
Artinya : “ Berbekallah, dan sesungguhnya sebai-baik bekal itu ialah taqwa; dan berlindunglah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal ”(QS 2-197)
Rasulallah SAW dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Turmuzi dari sanad Abu Zar dan Mu’az bin Jabal mengatakan, yang artinya : Bertaqwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan giringkanlah keburukan itu dengan kebajikan yang (dengan kebajikan itu) akan menghapuskan keburukan. Dan bergaulah dengan sesama manusia dalam penampilan perilaku yang baik (H.R. Turmuzi)
Komentar Imam Nawawi (Yahya bin Syaraf Al-Din) tentang kata taqwa yang terkandung dalam konteks itaqillah ” sebagai kata-kata yang sudah sangat lazim, dengan inti melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
Artinya : ” Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. 16:128)
Perlu kita ketahui bahwa derajat taqwa merupakan yang tertinggi dari nilai kemanusiaan. Kita dianjurkan untuk berusaha mendapatkan derajat taqwa itu; namun tidak seorangpun mengetahui apakah dirinya telah tergolong sebagai manusia yang taqwa atau tidak. Allah berfirman :
Artinya : “....Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.(QS 53:32)
Demikian Wabillahidayah wattaufiq (Ahmad Zahr Al-Din)